Selain Indonesia, Bukalapak Juga Mau Jual Saham di 3 Negara Ini

Bukalapak Juga Mau Jual Saham

Bukalapak sebagai salah satu startup sukses dari Indonesia memiliki ambisi untuk dapat melakukan initial public offering (IPO) atau menjual sebagian saham perusahaan kepada publik atau publik.

Pendiri yang juga merupakan Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak, Ahmad Zaky mengatakan, sebagai perusahaan teknologi yang telah masuk dalam kategori unicorn, Bukalapak harus membuktikan dirinya kepada publik untuk dapat menjadi perusahaan yang menguntungkan.

Salah satu buktinya adalah dengan mangadakan IPO. Achmad Zaky menyatakan keinginannya untuk Bukalapak untuk mengadakan IPO di Singapura, Amerika Serikat, ke Australia, dan tentu saja di Indonesia.

“Saya pikir ini adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai perusahaan teknologi unicorn awal. Kita harus menjadi panutan, kita harus menunjukkan bahwa kita menguntungkan. Kita dapat melakukan IPO di suatu tempat atau di Singapura, Nasdaq atau Australia, Indonesia juga,” kata Zaky selama Konferensi Tech In Asia di Jakarta.

Selain bukti publik, dengan melakukan IPO, penjualan saham juga merupakan upaya untuk memberikan kepercayaan kepada investor bahwa investasi yang telah diberikan telah berhasil mengembangkan perusahaan.

Tercatat, saat ini ada lima startup unicorn di Indonesia, mulai dari Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan akhirnya OVO, dan semuanya belum ada di pasar saham.

“Saya pikir kami menunggu ini menjadi sangat sukses dan mudah-mudahan kisah sukses ini dapat menghasilkan lebih banyak investor. Ini menginspirasi lebih banyak pendiri dan ekosistem bisa lebih besar dan lebih besar,” jelas Zaky.

Dengan itu, Zaky berharap bahwa talenta muda yang lebih berbakat dari Indonesia akan dapat mendirikan perusahaan teknologi. Seperti Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan OVO.

“Dan seiring bertambahnya bakat, orang-orang dari seluruh Indonesia dapat bermimpi tentang mendirikan perusahaan teknologi. Saya pikir itulah masa depan ekosistem startup di Asia Tenggara,” kata Zaky.

Indonesia Memimpin Ekonomi Digital Asia Tenggara

Sementara itu, peran Indonesia dalam bidang teknologi Asia semakin meningkat. Setelah sebelumnya berada dalam bayang-bayang negara tetangga Singapura, Indonesia kini semakin memantapkan dirinya sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir.

Ketahanan ekonomi dan pertumbuhan yang kuat dalam Produk Domestik Bruto (PDB) menjadikan Indonesia negara terbesar ketiga dengan pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara G20.

Ini juga telah mampu memikat investor dan pebisnis untuk membangun bisnis di Indonesia.

Indonesia juga memiliki beberapa unicorn, startup yang memiliki penilaian 1 miliar dolar AS atau lebih.

Bahkan, Indonesia diperkirakan memiliki unicorn kelima pada akhir tahun ini, mengikuti jejak Gojek, Traveloka, Bukalapak dan Tokopedia.

Pendiri Tech in Asia, Willis Wee mengatakan, sekarang Indonesia adalah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari pangsa pasar ekonomi digital.

“Indonesia adalah pasar penting bagi startup yang ingin menembus pasar regional, mengingat banyak peluang besar yang tersedia,” katanya.

Berdasarkan laporan Temasek, ekonomi digital Indonesia tahun ini mencetak US $ 40 miliar atau Rp. 556,6 triliun dengan nilai tukar Rp. 14.166 per dolar AS.

Jumlah ini merupakan nominal tertinggi di kawasan Asia Tenggara tahun ini, Indonesia mengalahkan Thailand dengan US $ 16 miliar. Kemudian Singapura dengan US $ 12 miliar, Vietnam dengan US $ 12 miliar, Malaysia dengan US $ 11 miliar, dan Filipina dengan US $ 7 miliar dolar AS.

Temasek juga memperkirakan bahwa pada tahun 2025 ekonomi digital Indonesia akan meningkat sebesar US $ 133 miliar. Jumlah itu juga masih di atas Thailand dengan ekonomi digital US $ 50 miliar pada 2025.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*