Harga Komoditas Karet Beserta Prospeknya yang Menjanjikan

Harga Komoditas Karet

Harga komoditas karet dunia terus meningkat pada awal 2019 ini. Pada bursa Tokyo Commodity Exchange, tren peningkatan harga karet mencapai 4,06%. Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemangkasan ekspor karet Indonesia dan Malaysia dalam beberapa bulan terakhir, di mana masing-masing sebesar 98.160 ton dan 15.600 ton. Peningkatan harga karet juga tidak lepas dari aktivitas bisnis manufaktur yang semakin semarak di pasar global.

Sejatinya Indonesia memiliki lahan perkebunan karet terluas di dunia, sehingga hasil produksi komoditi karet Indonesia harusnya bisa menjadi sumber perekonomian negara. Realitanya, jika dilihat dari produksi yang ada, hasil produksi karet Indonesia masih di bawah Thailand dan Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan produksi karet perlu lebih dimaksimalkan secara efisien agar bisa diperoleh hasil yang lebih maksimal.

Produksi Komoditas Karet

Karet adalah komoditas yang digunakan pada banyak produk dan berbagai perkakas peralatan, mulai dari produk-produk industri, properti rumah tangga, dan berbagai peralatan lain. Terdapat dua jenis karet, yaitu tipe karet alam dan karet sintetis.

Karet alam terbuat dari getah pohon karet, sedangkan karet sintetis terbuat dari minyak mentah. Harga kedua jenis komoditas karet ini saling melengkapi dan menggantikan. Misalnya ketika harga minyak mentah dunia naik, maka permintaan akan tipe karet alam (getah) akan naik, begitupun sebaliknya jika biaya produksi karet alam naik maka permintaan tipe karet sintetis akan naik pula.

Tiga negara produsen karet terbesar di dunia adalah Thailand, Malaysia, dan Indonesia. 70% dari produksi karet dunia berasal dari ketiga negara ini. Untuk menghasilkan produksi getah, diperlukan waktu tujuh tahun bagi sebuah pohon karet.

Pohon tersebut dapat bertahan dalam memproduksi getah rata-rata hingga 25 tahun. Sejak tahun 1980-an Indonesia telah menjadi produsen karet dunia. Sekitar 3.800.000-an ton diekspor oleh Indonesia setiap tahunnya. Daerah penghasil karet terbesar di Indonesia adalah Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Beberapa negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia antara lain Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, dan Brazil. Kebutuhan karet dalam negeri sendiri kebanyakan digunakan untuk kebutuhan bisnis manufaktur, terutama di sektor otomotif.

Baca juga : Daftar Komoditas Ekspor Indonesia Yang Menjadi Unggulan

Peningkatan Harga Komoditas Karet

Meski sejak tahun 2011 harga komoditas karet mengalami tekanan, namun pada bulan Mei 2019 ini harga karet menunjukkan peningkatan yang positif. Hal ini tidak lepas dari kesepakatan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yang dilakukan oleh ketiga negara penghasil karet terbesar, yaitu Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Pemangkasan ekspor karet oleh ketiga negara ini mempengaruhi harga pasaran komoditas karet dunia.

Indonesia nampak sangat berkomitmen dalam menjalankan kesepakatan AETS demi peningkatan harga karet di pasar global. Kementerian Dalam Negeri dalam Kepmendag No. 779 tahun 2019 meminta gabungan perusahaan karet di Indonesia sebagai pelaksana kesepakatan AETS di Indonesia. Kemendag akan memberi sanksi bagi perusahaan yang melanggar kesepakatan AETS tersebut.

Hasilnya cukup menggembirakan. Pada bulan Mei 2019 harga karet terus melonjak naik. Terhitung mulai 22 Mei 2019 hingga 31 Mei 2019, harga karet terus melonjak hingga angka 6%, dengan kisaran harga 217,60 USD per kilogram.

Peningkatan harga karet ini tentu menjadi berita gembira bagi para petani karet di Indonesia. Pasalnya selama beberapa tahun terakhir mereka harus menghela nafas melihat penurunan drastis harga karet di pasaran. Di pasaran domestik Indonesia, kebutuhan karet biasanya digunakan untuk industri manufaktur ban, sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, sarung tangan medis serta berbagai peralatan lainnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*